Notification

×

Iklan

Iklan

Penyakit Hati Menurut Perspektif Qur'an Hadits

Kamis, 23 Juni 2022 | Juni 23, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-06-26T01:40:51Z
      By: Hery Sabaruddin, M.Ag.
          Pimpred Nurani Rakyat
Penyakit hati yang dimaksud, bukanlah penyakit liver, hepatitis, (psikologis) dan lain sebagainya. Tetapi lebih kepada
spritual/emosional.
Menurut hemat kami, penyakit hati muncul/bersumber dari salah satu potensi yang dianugerahi Allah SWT, dan telah dimiliki manusia sejak lahir, yaitu 'nafsu. Akibat nafsu yang tidak dapat dikelola dengan baik sehingga muncullah penyakit hati.
Penyakit hati memunculkan perasaan dan aura negatif. Yang bisa mengganggu kesucian jiwa dan jiwa manusia. Akibatnya, karakter seseorang bisa berubah drastis dan kerap melakukan hal-hal buruk.
Jika seseorang mengidap penyakit hati, maka prilaku dan akhlaknya menjadi
rusak.
Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 125 yang artinya:"Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir."
Penegasan hal serupa diungkapkan dalam QS. An-Nisa ayat 32 yang
artinya:
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Sementara konsepsi hadist yang berbicara tentang penyaki hati, diantaranya dijelaskan dalam sebuah Hadits yang cukup populer disebutkan;
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda: “Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR Abu Dawud). Kemudian hadis lain dari Anas bin Malik RA., berisi tentang hal serupa, “Dari Anas, bahwa Rasulullah saw (beliau) bersabda: “Kedengkian akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar, dan sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air dapat mematikan api. Shalat adalah cahaya seorang mukmin, sedangkan puasa adalah perisai dari api neraka.” (HR. Ibnu Majah). Mengutip pendapat Hasan Muhammad as-Syarqawi ada 5 Penyakit Hati dalam Islam dan bahayanya antara lain;

Sombong (Takabur). 
Allah Swt. sangat membenci sifat ini karena merupakan penyebab kafirnya iblis.
Oleh sebab itu dalam QS. Al-Isra ayat 37 kita diminta untuk menjauhi sifat sombong. 

Mengagumi Diri Sendiri (Ujub)

Di bawah sifat sombong ada karakter ujub yang merujuk pada kecendrungan mengagumi diri sendiri.

Kebiasaan inilah yang menjadi akar rasa sombong di dalam hari seseorang.

Menurut hadis riwayat Abdur Razaq, Rasulullah pernah bersabda sebagai berikut:

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri),” (HR. Abdur Razaq).

Tidak hanya itu, penyakit hati seperti ini bisa membawamu pada kekafiran.

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir,” (QS At Taubah: 125).

Iri dengki ((Hasad)

Iri adalah suatu penyakit hati yang akan membuat seseorang tidak tenang dalam menjalani hidup karena terus merasa tersaingi dengan kebahagiaan orang lain.

penyakit hati ini lebih dikenal dengan sebutan iri. Meski demikian, kata hasad atau dengki ternyata jauh lebih buruk daripada sekadar iri hati.

Iri hati, disebut Imam Shamsi Ali merupakan rasa tidak nyaman atas sebuah kelebihan yang Allah SWT berikan pada orang lain. Iri hati juga kerap terjadi ketika kelebihan orang lain dianggap sebagai ancaman, saingan, atau halangan bagi diri sendiri untuk memiliki kelebihan yang sama.

Hasad merupakan rasa dengki atas perasaan ketidak nyamanan di hati melihat kelebihan orang lain. Tidak hanya merasa tidak nyaman, penyakit hati ini juga cenderung berusaha agar kelebihan orang lain itu dihilangkan, dengan cara apapun.

Imam Shamsi Ali menyebut ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan manusia mengalami penyakit iri hati bahkan hasad. Pertama, karena kegagalan manusia mengukur dirinya sendiri.

"Ma’rifatun nafs atau tahu diri, mengantarkan manusia pada kesadaran atas potensi atau kelebihan sekaligus kekurangan diri sendiri," lanjutnya.

Kemungkinan kedua, ketidak tahuan terhadap diri sendiri berujung pada kegagalan menangkap setiap potensi yang Allah SWT karuniakan kepada manusia.

Suka pamer (Riya)

berasal dari bahasa Arab ra'a-yara-ruyan-wa ru'yatan yang artinya melihat. Menurut istilah riya adalah memperlihatkan diri kepada orang lain agar keberadaannya baik ucapan, tulisan, sikap, maupun amal perbuatannya diketahui. 

Riya termasuk salah satu sifat orang munafik. Sifat ini bertentangan dengan sifat orang beriman yang senantiasa ikhlas dalam melakukan segala sesuatu. Orang yang berbuat riya tidak akan mendapat apapun atas kebaikan yang mereka kerjakan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 264 berikut ini:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ -

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (QS. Al Baqarah: 264)

Menurut Ali bin Abi Thalib, ciri-ciri orang riya terdapat dalam jiwa seseorang. Di antara ciri-ciri orang riya adalah malas jika seorang diri, giat jika di tengah-tengah orang banyak, tambah semangat beramal jika mendapatkan pujian, dan berkurang frekuensi amalannya jika mendapat celaan.

Kikir (Bakhil)

Sifat kikir dan bakhil adalah keengganan mengeluarkan harta yang seharusnya disedekahkan. Sifat ini merupakan akhlak tercela yang harus dihindari dalam Islam.

Secara implisit, sifat kikir ini merupakan bentuk perebutan harta orang lain. Bagaimanapun juga, terdapat hak fakir dan miskin pada sebagian harta orang-orang berlebih. Hak-hak itulah yang harus dikeluarkan dalam bentuk zakat, sedekah, infak, hibah, dan lain sebagainya.

Orang yang kikir diancam Allah SWT dalam Al-Quran surah Al-Lail sebagai berikut:

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, mereka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa," (QS. Al-Lail [92]: 8-11).

Demikianlah pandangan Qur'an dan hadits tentang penyakit hati. Penyakit hati jika tidak kelola dengan baik, maka ia akan merusak batin, moral/perbuatan manusia. Bahkan penyakit hati juga bisa merusak psikologis seseorang. Untuk itu penyakit hati harus diantisipasi dengan selalu mengingat Allah SWT.

Bisa melalui  ibadah Zikir, sholat, membaca Qur'an dan ibadah lainnya. Sesuai dengan firman Allah  "Katakanlah 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dia lah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal..'," (QS At Taubah: 51). Zikir adalah amalan yang diperintahkan Allah SWT kepada kita untuk dapat menghadirkan Allah dalam diri kita, kapan pun dan di mana pun kita berada  Ketika muroqobah (pengawasan) Allah melekat dalam diri kita, maka selalu ada usaha agar berbagai aktivitas yang dilakukan senantiasa berada dalam bingkai syariat dan sunah Rasul-Nya. Kita juga tidak pernah lepas dari dosa dan kesalahan, sehingga lantunan istigfar harus diperbanyak. Bahkan, Rasulullah Saw beristigfar 100 kali setiap hari, padahal beliau telah dijamin masuk surga. (*)





×
Berita Terbaru Update