Notification

×

Iklan

Iklan

Konsepsi Qur'an Tentang Potensi Manusia

Kamis, 09 Juni 2022 | Juni 09, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-06-10T01:42:20Z
Oleh: Hery Sabaruddin MAg.
Pemred Nurani Rakyat/Alumni Sarjana Tafsir Hadis IAIN Jakarta

Nuranirakyat.com- Allah SWT, telah memberikan anugerah/nikmat yang tidak terhingga kepada manusia.
Sebagai potensi diri yang diciptakan Allah SWT, diberikannya melekat dalam diri manusia. Ketika manusia dilahirkan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan dunia. 
Manusia harus pandai memanpaatkan potensi tersebut dan bersyukur dengan menggunakan nikmat Allah tersebut, sesuai yang diberikan. Menyia-nyiakan anugerah Allah, tentu bukan perilaku bersyukur.

Potensi diri yang dimiliki manusia itumerupakan kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang masih terpendam didalam diri dan menunggu diwujudkan atau diaktualisasikan. Untuk menjadi manfaat nyata dalam kehidupan manusia. Potensi diri adalah kemampuan yang dimiliki setiap pribadi yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan.
Ada empat potensi yang diberikan Allah kepada manusia sejak lahir yaitu, potensi akal, hati, ruh dan nafsu.

Potensi yang pertama adalah akal. Akal berarti daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang digambarkan Al-Qur'an untuk memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitar, bahkan dalam Al-Qur'an kata 'aql di ulang sebanyak 46 kali. Seperti yang dijelaskan dalan QS. An-Nahl : 12) tentang akal.
"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal."
Akal merupakan syarat untuk mempelajari ilmu pengetahuan.
Ayat lainnya yang berbicara tentang akal.
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa’ : 70).

Potensi manusia yang kedua adalah hati. Hati merupakan segala-galanya yang dapat menempatkan manusia kepada baik dan buruknya suatu tingkah laku yang dikerjakannya. Dalam Al-Quran banyak menempatkan kata hati dengan jiwa, yang maksud tujuannya juga merupakan sebagai pengendali kehidupan manusia dalam bertingkah laku. Qalb merupakan suatu anugerah Allah swt. yang diberikan kepada manusia yang mempunyai kedudukan dan fungsi yang sangat penting dan utama, sebab qalb berfungsi sebagai penggerak dan pengontrol anggota tubuh lainnya. Qalb adalah salah satu aspek terdalam dalam jiwa manusia yang senantiasa menilai benar salahnya perasaan, niat, angan-angan, pemikiran, hasrat, sikap dan tindakan seseorang, terutama dirinya sendiri. Sekalipun qalb ini cenderung menunjukkan hal yang benar dan hal yang salah, tetapi tidak jarang mengalami keragu-raguan dan sengketa batin sehingga seakan-akan sulit menentukan yang benar dan yang salah. Tempat untuk memahami dan mengendalikan diri itu ada dalam qalb. Qalbu-lah yang menunjukkan watak dan jati diri yang sebenarnya. Qalbu-lah yang membuat manusia mampu berprestasi, bila qalbu bening dan jernih, maka keseluruhan diri manusia akan menampakkan kebersihan, kebeningan, dan kejernihan. Yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dilakukan oleh indera manusia sejak berada di dunia.
Sebagaimana terdapat dalam QS al-Isrā’/17: 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Terjemahnya:
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”.

Potensi yang ketiga yang dimiliki manusia adalah, Ruh.
Menurut Ibnu Ma’dzum, dalam kitabnya mengatakan bahwa Ruh berarti tiupan. dinamakan tiupan karena didalam ruh itu seperti angin, yaitu dzat yang lembut dan bersih yang ada dalam diri manusia. Ruh itu sendiri merupakan dasar kehidupan manusia. Ketika kita membicarakan tentang ruh itu sendiri, kita tidak akan dapat menemukan jawaban yang tepat atau jawaban yang pasti tentang ruh itu sendiri. Hal itu dikarenakan bahwasannya ruh tidak dapat dilihat atau dirasakan oleh panca indra. Ruh merupakan ilmu yang tidak mampu dipelajari oleh manusia, seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an tentang ruh 
:وَ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُوْحُ قُلِ الرُوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَ ما أُوتِيْتُمْ منَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيْلاًً
Ruh diartikan sebagai wahyu, karena wahyu merupakan sebuah kabar atau berita yang Allah turunkan kepada para Nabi untuk menegakkan kalimat Allah di dunia. Wahyu merupakan sebuah hal yang dikatakan didalam Mu’jam Wasit bahwasannya wahyu berbentuk seperti sebuah suara yang disampaikan oleh Allah SWT lewat Jibril.

Potensi yang terakhir yang keempat yakni, Hawa Nafsu. 
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Asbab al-Takhallush Min al-Hawa menyebutkan bahwa “hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginan.” 
Sedangkan Ibnu Rajab juga menjelaskan tentang hawa nafsu ini.
Demikian empat potensi yang dimiliki manusia yang dibekali allah sejak lahir kedunia. Dengan empat potensi yang dimiliki tersebut, diharapkan manusia mampu mengarungi kehidupan dunia.
Untuk menjadi seorang muslim yang beriman dan bertaqwa. Sebagai insan yang 'kamil, sesuai dengan 
predikat sebagai makhluk yang sempurna (Khalifah), dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya. (R)



.
×
Berita Terbaru Update